Kamis, 20 Oktober 2011

SEKULARISASI

SEKULARISASI

I.                   PENDAHULUAN
Sekularisasi sudah sejak lama menjadi bahan pertentangan dalam masyarakat kita. Beberapa kelompok ada yang menolaknya sebagai arus pengafiran, ada yang menyambutnya sebagai tuntutan jaman. Ada yang menentangnya secara buta dan fanatik, ada juga yang memujinya tanpa mengerti baik pokok maupun segala akibatnya. Istilah sekularisasi mempunyai makna yang beragam dan menyangkut beberapa aspek yang berbeda. Ada 6 wilayah dimana sekularisasi mempunyai makna yang berlainan, diantaranya adalah struktur sosial, institusi individual, aktivitas, tentang mentalitas, populasi dan konteks agama.[1]
Proses sekulerisasi apapun bentuknya sebagai sosiokultural, secara historik, sangat dipengaruhi oleh dinamika perkembangan pemikiran filosofis dan peradaban modern yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Terdapat dua bentuk arah (direction) atau kecenderungan proses sekulerisasi. Pertama, kecenderungan proses sekulerisasi ke arah bentuk rasionalisasi, dan kedua ke arah terbentuknya sekuralisme. Kecenderungan rasionalisasi lebih merupakan proses pengrasionalkan segenap persoalan berkaitan dengan agama atau keagamaan. Sementara itu, kecenderungan kearah sekularisme lebih mengarah kepada terbentuknya suatu ideologi humanistik baru yang cenderung menyangkal, menolak dan mengekslusi bahkan memusuhi keberadaan agama atau kehadiran Tuhan dalam kiprah kehidupan keseharian manusia di dunia.
Dalam paper ini, penulis mencoba untuk memaparkan secara jelas makna dari Sekularisasi, khususnya sekularisasi dalam konteks Indonesia, budaya dan gereja.
II.                ISI
2.1        Istilah Sekularisasi
Kata sekularisasi berasal dari bahasa latin saeculum, yang berarti dunia, yaitu dunia yang seperti apa adanya besaerta keseluruhan nilai-nilainya yangs ering disebut dengan nilai duniawi. Dari kata dasar saeculum dibentuk kata saecularis atau sekular yang bermakna serba duniawi yang memiliki arti lebih baik. Dari kata yang sama muncul pengertian sekularisme dan sekularisasi. Makna yang pertama adalah golongan ideologi dan yang kedua berupa suatu gerakan.[2]
Istilah Inggris secular berasal dari bahasa Latin saeculum yang berarti zaman
sekarang ini (this present age). Ada satu kata lain dalam bahasa Latin yang juga
menunjukkan makna dunia yaitu mundus, yang kemudian di Inggriskan menjadi
mundane. Kata saeculum lebih menunjukkan masa (time) berbanding mundus yang
menunjukkan makna ruang (space). Kata saeculum sepadan dengan kata aeon dalam
bahasa Yunani kuno dan kata mundus sepadan dengan kata cosmos juga dalam bahasa Yunani Kuno.
Kata “dunia” di dalam bahasa Latin memiliki dua istilah yang berbeda, yaitu mundus dan saeculum, maka kata dunia di dalam bahasa Latin menjadi suatu kata yang ambivalent. Ambivalensi kata “dunia” ini, sebenarnya mengungkapkan problem teologis yang dapat ditelusuri kembali dari perbedaan konsep antara Yunani dan Ibrani. Orang Yunani kuno memandang realitas itu sebagai suatu ruang, sementara dalam bahasa Ibrani, dunia itu menunjukkan suatu masa. Bagi orang Yunani, dunia adalah sebuah ruang, sebuah tempat. Event–event terjadi di dalam (within) dunia, tetapi tiada satu pun yang penting terjadi kepada (to) dunia. Sebaliknya, dalam bahasa Ibrani, esensi dunia adalah sejarah. Peristiwa yang terjadi secara berurutan, bermula dari penciptaan dan menuju kesempurnaan Jadi, jika orang Yunani kuno memandang realitas itu menurut ruang, orang Yahudi memandang realitas itu menurut masa.[3]
Makna kata sekular semakin memiliki konotasi negatif ketika
terjadinya sintesis pada abad pertengahan antara Yunani kuno dan Ibrani
(Hebrew). Sintesis itu ialah bahwa dunia ruang (spatial world) lebih tinggi dan
lebih agamis, sedangkan dunia sejarah yang berubah adalah lebih rendah atau
dunia  sekuler.
Secara etimologis dan perubahan makna yang terjadi dalam kata
sekularisasi, maka kita harus dapat membedakan makna antara sekularisasi dan sekularisme. Sekularisasi mengimplikasikan proses sejarah, hampir pasti tak mungkin diputar.
2.2        Pengertian Sekularisasi
Sekularisasi diartikan sebagai pemisah antara urusan negara (politik) dan urusan agama, atau pemisah antara urusan duniawi dan ukhrawi. Jadi sekularisasi adalah pembebas manusia dari agama dan metafisik artinya bahwa terlepasnya dunia dari pengertian-pengertian religius yang suci, dari pandangan dunia semu,atau dari semua mitos supra-natural. Sekularisasi tidak hanya melingkupi aspek-aspek kehidupan sosial dan politik saja, tetapi juga telah merambah ke aspek kultur, karena proses tersebut menunjukkan lenyapnya penentuan simbol-simbol integrasi kultural.
Bagi Peter L. Berger, sekularisasi adalah suatu “proses melalui mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dilepaskan dari dominasi lembaga-lembaga dan simbol-simbol keagamaan”.[4] Sedangkan menurut Karel Dobbelaere, sekularisasi adalah suatu proses dalam masyarakat di dalam mana suatu sistem keagamaan yang transenden dan mencakup segalanya disusutkan menjadi suatu subsistem dari masyarakat yang ada bersama subsistem-subsistem lainnya. Proses ini membuat klaim-klaim tentang pencakupan segalanya itu kehilangan relevansinya. Dengan demikian, lembaga agama termarjinalisasikan dan terprivatisasi.[5]
Sekularisasi terjadi karena di dalam masyarakat telah berlangsung perubahan-perubahan struktural, yang membuat sistem besar pengelolaan atau manajemen masyarakat disubdivisikan ke dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil namun rasional, yang masing-masing memainkan fungsi sendiri-sendiri (ekonomi, politik, famili, pendidikan, sains). Subsistem-subsistem ini sangat terspesialisasi dan terdiferensiasi secara fungsional, dan keadaan ini telah menghasilkan organisasi-organisasi yang makin bertambah rasional. Masyarakat menjadi tersegmentasi ke dalam sejumlah domain kelembagaan, yang fungsional, rasional dan otonom. Sub-subdivisi, diferensiasi, segmentasi, spesialisasi dan individuasi fungsi-fungsi dalam masyarakat hanya bisa berlangsung kalau ada nilai-nilai civik inti yang melandasi dan menyemangati, yakni libertas dan equalitas. Tetapi karena tidak semua orang memiliki keahlian-keahlian yang diperlukan (meskipun ada nilai equalitas), maka di dalam subsistem-subsistem itu diperlukan orang-orang yang profesional. Siapa saja yang memiliki profesionalitas, boleh berfungsi dalam suatu subsistem yang cocok.

2.3        Latar Belakang Timbulnya Sekularisasi
Suatu masyarakat adalah produk aktivitas manusia secara kolektif, dan merupakan realitas yang tidak statis, selalu berubah selaras dengan alam pikiran. Begitu pula aktivitas manusia secara individu merupakan fenomena yang dapat berpengaruh pada kolektivitasnya, bahkan secara realitas dapat memainkan peranan mengubah dunia. Artinya dalam hal ini manusia selalu dihadapkan pada konfrontasi terhadap realitas dan ia ingin selalu memperbiaki diri dan lingkungannya. Apalagi jika manusia telah dihadapkan pada kondisi yang membatasi ruang gerak aktivitas maupun kebebasan berpikirnya, maka akan muncul reaksi yang merupakan manifestasi dari akumulasi potensi untuk kemudian mendobrak apa yang telah mengekangnya.
Tidak berbeda dengan apa yang telah terjadi pada masyarakat Kristen Barat. Munculnya gerakan Protestantisme tidak lain merupakan reaksi terhadap kendali religius saat itu, yakni Dominasi Gereja Katolik yang telah mengekangnya. Perspektif semacam ini dimaksudkan untuk menyentuh sebuah potret pada masyarakat Kristen Barat, karena gambaran situasi religius itulah yang merupakan latar belakang yang telah meletakkan dasar bagi timbulnya sekularisasi. Salah seorang filsuf Kristen, Jogues Maritain telah menguraikan tentang bagaimana dunia Kristen dan dunia Barat melewati krisis gawat sebagai akibat peristiwa masa kini, yang diiringi oleh kebangkitan nalar dan empirisme serta kemajuan ilmu dan teknologi. Krisis semacam itulah yang dikatakan sebagai sekularisasi.[6]

2.4        Sekularisasi Agama
a.            Sekularisasi Dalam Gereja Barat
Bagi Peter L. Berger hubungan sekularisasi dan masa depan agama dapat dimengerti melaui peradaban manusia yang adalah merupakan suatu keseluruhan yang menyebar keseluruh dunia, dinamika yang ditimbulkan oleh kapitalisme industrial, gaya hidup yang ditimbulkan oleh produksi industrial, pengaruh dari ilmu pengetahuan modern yang meresap ke berbagai sektor kehidupan sosial,  infrastruktur praktikal di dalam kehidupan sosial. Dari banyak faktor, faktor yang merupakan akar dan benih sekularisasi adalah tradisi keagamaan Barat, khususnya tradisi keagamaan biblis agama Yudaisme yang melalui kekristenan, khususnya tradisi Kristen Reformatoris Kalvinis, telah menjadi fondasi-fondasi peradaban modern. Berger menegaskan, dunia modern, dengan sekularisasinya, dapat ditafsirkan sebagai “suatu realisasi dari roh Kristen” selain itu menurut Berger, “Protestantisme telah memainkan suatu peran khas di dalam menegakkan dunia modern.” Kontras dengan Gereja Roma Katolik yang kehidupan praktis dan ritual keagamaannya masih dipenuhi aura kekeramatan dunia transendental, kehidupan Gereja Protestan Kalvinis telah mengalami “disenchantment of the world” (Entzauberung der Welt), telah “kehilangan kekeramatan dunia ini”. Orang-orang Prostestan tinggal di dalam suatu dunia yang numinositas-nya telah diambil darinya, dunia yang “bereft of numinosity”. Tidak ada malaikat-malaikat, tidak ada orang-orang kudus dan Bunda Maria sebagai perantara-perantara keselamatan, tidak ada roti dan anggur yang berubah menjadi daging dan darah Kristus, yang semuanya menghubungkan dunia imanen (dunia kodrati) dengan dunia transendental (dunia adikodrati) di mana Allah berada.
            Bagi orang Protestan Kalvinis, Allah begitu tinggi, jauh di atas sana, transenden, suci tidak tertandingi oleh siapapun dan apapun yang ada di dalam dunia. Sebaliknya, manusia, dalam kaca mata orang Protestan Kalvinis, adalah makhluk fana dan hina yang telah jatuh ke dalam dosa, makhluk pendosa, dan karena itu terpisah dan terputus sama sekali dari Allah yang Maha Suci dan transenden. Hanya ada ada satu penghubung antara Allah dan manusia, yakni firman Allah, dalam arti firman yang menyatakan pemulihan hubungan hanya mungkin terjadi karena “rakhmat semata-mata,” sola gratia (seperti menjadi pengakuan iman Protestan Lutheran).[7]
Ketika penghubung satu-satunya ini dipatahkan, karena sudah tidak “plausible” lagi, maka terpisahlah dunia imanen dari dunia transenden selama-lamanya; maka, dunia kodrati sungguh-sungguh telah “bereft of numinosum” dan menjadi realitas empiris duniawi semata-mata, “God is dead”. Ketika ini terjadi, maka realitas empiris ini menjadi terbuka terhadap penetrasi rasional dan sistematik, baik dalam pemikiran maupun dalam aktivitas, yang kita hubungkan dengan ilmu pengetahuan modern dan teknologi. Langit kini kosong tanpa malaikat, terbuka untuk diintervensi oleh para astronom, dan akhirnya, oleh para astronot. Maka, proses sekularisasi pun dimulailah.
            Berger menandaskan, pandangan bahwa dunia ini sudah kehilangan kekeramatannya, karena mengalami desakralisasi dan demitologisasi, telah tersekularisasi, sudah dimulai dalam Perjanjian Lama, Kitab Suci agama Yahudi, agama yang dipenuhi oleh motif-motif transendentalisasi (Allah itu Esa, di atas sana, tidak terjangkau), historisasi (namun, Allah yang adikodrati itu, bekerja dalam sejarah Israel, menuntut respon umat, dan membuat ikatan perjanjian, berith, dengannya) dan rasionalisasi etika (anti-magis: umat menjadi diperkenan Allah bukan karena melakukan praktek-praktek magis, tetapi karena melaksanakan Taurat Allah).[8]

b.         Sekularisasi dalam Gereja Indonesia
Sebelumnya telah dipaparkan bagaimana latar belakang timbulnya sekularisasi pada masyarakat Kristen Barat. Pertanyaan yang timbul, apa yang dapat direfleksikan penulis mengenai hal-hal diatas di dalam kehidupan penulis sebagai seorang penganut agama di Indonesia? Penulis meyakini bahwa kenyataan di atas tidak dapat diambil begitu saja, kemudian di terapkan ke dalam kekristenan di Indonesia secara khusus, apalagi di dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Pemikiran-pemikiran sekularisasi di dalam konteks Eropa-Amerika berkembang dan memiliki suatu perbedaan yang sangat jauh berbeda dengan konteks Indonesia. Teologi yang berkembang di Eropa-Amerika tidak harus berhadapan dengan pluralitas suku, agama, budaya, dan yang pasti tidak berhadapan dengan
kemiskinan seperti yang terjadi pada negara Indonesia. Teologi Pembebasan belum cukup relevan dengan kenyataan kehidupan beragama di Indonesia. Walaupun mereka berhadapan dengan kenyataan seperti kemiskinan, ketidakadilan, alienasi dan marginalisasi.
 Saat ini, Agama-agama tidak hanya berhadapan dengan sekularisasi-modernisasi seperti di Barat, tetapi juga menguatnya sentimen keagamaan dan fundamentalisasi agama-agama dan ideologi yang fanatik. Karena Amstrong menyebutkan bahwa fundamentalisme justru merupakan akibat dari modernisasi yang hadir secara agresif, sehingga memporak-porandakan pandangan dunia lama, agama-agama yang selanjutnya menciptakan keterasingan simbol-simbol religius.[9] Hal ini juga terjadi di Indonesia, dimana meningkatnya pengaruh modernisasi dan sekularisasi berbanding lurus dengan adanya fundamentalisasi, konservatisasi atau evangelisasi. Dari Kristen, semakin menjamurnya gereja-gereja yang berpaham konservatif, fundamentalis, bahkan injili sebagai bentuk ketidakpuasan atas gereja-gereja ‘mainstream’ di Indonesia.
Tantangan agama-agama di Indonesia justru dua kali lipat dibandingkan negara-negara lain. Di satu sisi, kita berhadapan dengan multi-pluralitas, modernisasi dan sekularisasi, di sisi dalam kita masih belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan, ketidakadilan, alienasi, marginalisasi, sumber daya manusia yang terbatas, serta masalah ekonomi-politik lainnya.[10]

2.5        Sekulariasasi Budaya
Salah satu bentuk sekularisasi yang terjadi dalam konteks budaya Indonesia adalah budaya Bali. Topeng sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel, dalam aktivitas berkeseniannya lebih dikenal lewat seni pertunjukan tan maupun dramatari, Keberadaan topeng dalam mayarakat sangat brekaitan erat dengan upacara-upacara keagamaan Hindu, karena kesenian l ul uh dalam agama dan masyarakat. Kajian penelitian ini lebih menitik beratkan pada pergeseran perupaan lapel yang ada dalam Topeng Pajegan. Pergeseran meliputi bentuk perupaan lapel, simbol dan fungsi karya seni tersebut dalam masyarakat, sebagai akibat dari pengaruh industri pariwisata yang dikembangkan di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif dengan maksud menggambarkan apa adanya rupa topeng Bali, baik perkembangan dan perubahanya. Dengan menggunakan pendekatan sosial-budaya dan sejarah, guna mengetahui pergeseran-pergeseran tata nilai masyarakat Bali pada tiap jamannya.
            Topeng Bali atau tapelnya merupakan kesinambungan dari karya seni manusia pra sejarah yang mencapai kesempurnaan bentuk pada masa budaya Hindu di Bali atau Bali klasik serta mendapatkan fungsi baru, sebagai dramatari dengan membawakan lakon babad dan sejarah. Adapun kesenian Topeng tersebut seperti Topeng Pajegan dan Sidhakarya, Topeng Panca, Topeng Sapta, Wayang Wong, Barong, Rangda dan jenis topeng lainnya. Tape!-lapel yang terdapat pada Topeng Pajegan hanya merupakan simbolisasi dari perwatakan umum manusia biasa, yang dibentuk melalui perpaduan unsur-unsur bentuk dan nilai perlambangannya. Tape/-lapel tersebut tidak pernah menggambarkan tokoh siapapun kecuali dalam pementasanya, baru diberikan penokohan seperti Raja, Patih, Permasuri, Abdi dan yang lainya. Demikian pula pada lapel Sidhakarya merupakan simbol dari sifat manusia yang dualisme yang tercermin pada perwujudan tape/ berupa setengah manusia.
Pergeseran-pergeseran bentuk, simbol dan fungsi topeng dapat di telusuri dari latar belakang sejarah, dan social budaya masyarakat Bali yang tercermin pads perupaan tapel dari jaman ke jaman. Pergeseran tersebut dapat disebakan oleh adanya tingkat pemahaman pakem, daya kreativitas, ketrampilan, bakat dan sarana, yang menciptakan keragaman kreasi pada bentuk tapel. Masuknya unsur modernisme yang dibawa oleh industri pariwisata membawa pergeseran nilainilai sosio-budaya Bali, dari masyarakat tradisional komunal yang lebih mementingkan semangat kebersamaan dan menjaga keseimbangan antara alam maya (Niskala) dan dunia (Sekala) bergeser kepada masyarakat individualistik dan materialistik. Memberi peluang kebebasan sangging berkreasi dalam menentukan gaya tapelnya, walaupun masih menampakan perwujudan dari tapel tradisinya. Aspek ekonomi sangat mendorong terciptanya lapel jenis baru yang meninggalkan tradisinya seperti pads tapel-tapel bergaya pop.
Pergeseran dari masyarakat riligus magis ke masyarakat yang lebis bersifat sekuler. Proses sekularisasi dalam kesenian topeng terjadi, yang dahulu dianggap sakral dan hanya dapat ditarikan pada waktu-waktu tertentu atau pada hari suci sekarang sudah dapat dinikmati setiap saat. Demikian pula pada Topeng Pajegan yang dahulu sebagai pelengkap dan sarana upacara sekarang sudah dapat dipertunjukan kapan saja. Dalam pementasannya pun sering tidak lengkap yang dipentingkan adalah unsur estetis gerakan tarinya. Proses pergeseran ini tents berlangsung sampai scat ini, dan masyarakat dalam masa transisi.
2.6        Sekularisasi dan Masa Depan Agama
Hubungan yang jelas antara sekularisasi dan masa depan agama terjalin karena adanya dua periodesasi sekuler. Periode sekulasisasi terbagi ke dalam 2 macam periode, yaitu:
a.       Periode sekularisasi moderat
Periode sekularisasi moderat terjadi antara abad ke-17 dan ke-18. Pada periode sekularisme moderat, agama dianggap sebagai masalah individu yang tidak ada hubunganya dengan negara, tetapi meskipun demikian negara masih berkewajiban memelihara gereja, khususnya bidang upeti atau pajak. Dalam pengertian ini, dalam pemisahan antara negara dan gereja, tidak dirampas agama Masehi sebagai agama sekaligus dengan nilai-nilai yang dimilikinya, meskipun ada sebagian ajarannya ada yang diingkari, dan menuntut menundukkan ajaran-ajaran Masehi kepada akal, prinsip-prinsip alam, dan perkembanganya.

b.      Periode sekularisme ekstrem
Periode sekularisasi ekstrem berkembang pada abad 19 jika pada periode sekularisme moderat, agama masih diberi tempat dalam suatu negara, maka pada periode ekstrem, agama tidak hanya menjadi urusan pribadi, akan tetapi negara justru memusuhi agama. Begitu pula negara memusuhi orang-orang yang beragama. Peiode kedua ini, atau periode sekularisme ekstrem pada abad 19 dan 20 merupakan periode materialisme atau disebut sebagai revolusi sekuler. Dari dua periode tersebut agama bukan lagi hal yang sangat penting dan sedikit diabaikan .
Dengan mengetahui periode sekularisasi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka kita dapat mengetahui hubungan Sekularisasi dan masa depan Agama. Sekularisasi dalam hal ini mendudukkan agama sebagai aspek sentral dalam membicarakan dan memerikan penilaian terhadap konsep-konsep tentang sekularisasi, serta agama sebagai kacamata untuk melihat proses atau fenomena sekularisasi tersebut.[11]
Dapat dikatakan, bahwa sekuler bagi masa depan agama berfungsi sebagai motivasi bagi asas dasar pemikiran, alasannya adalah adanya seperangkat alasan-alasan yang menjelaskan tingkah laku manusia, selain itu seseorang akan melakukan sesuatu apabila ada persamaan dengan yang lain.
Banyak ilmuwan sosial yang yakin bahwa ilmu dan teknologi akan menghancurkan agama sebagai suatu lembaga sosial. Diantaranya adalah Anthony Wallace yang menegaskan bahwa masa depan agama yang evolusioner adalah suatu hal yang telah hilang. Percaya kepada makhluk-makhluk supernatural dan kekuatan supernatural yang mempengaruhi alam tanpa mematuhi alam akan mulai luntur. Sebagai suatu unsur kebudayaan, percaya kepada kekuasaan supernatural ditakdirkan untuk lenyap dan hilang dari dunia, sebagai akibat dari meningkatnya adekuasi dan difusi pengetahuan ilmiah dan realisasi oleh keyakinan sekuler bahwa kepercayaan supernatural tidak diperlukan untuk penggunaan ritual yang efektif.
Namun, ada pandangan yang bertentangan dengan hal yang telah dinyatakan oleh Anthony. J.Milton Yinger memandang agama sebagai suatu lembaga residual, yaitu suatu lembaga  yang akan selalu ada. Agama adalah suatu alat untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan akhir, dan agama ada untuk mengurangi ketidakpastian. Yinger. Manusia menaklukan kemiskinan hanya untuk menyadari bahwa pengetahuan dibalik pencapaian itu adalah bagian dari suatu pengetahuan yang lebih besar dari apapun. Kepercayaan manusai dapat merancang proses-proses sekuler untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dilakukan oleh agama itu sendiri adalah benteng harapan bukan suatu proposisi yang divaliditaskan secara empiris.
Wallace banyak memberi rekomendasi ilmu dan melunturkan kepercayaan agama. Menurut Glock dan Stark pada tahun 1965 menegaskan bahwa kita mengetahui jika seseorang memperoleh pandangan intelektual yang sangat berkembang, maka kepercayaan agama mereka cenderung akan menurun. Karena itu, jika manusia mulai dimasuki pengaruh bentuk pengajaran yang maju, maka agama dapat runtuh atau bahkan sanagt berkurang artinya. Semua kebudayaan manusia memperlihatkan keterbatasan dan telah menciptakan konsepsi-konsepsi tentang suatu kehidupan akhirat agar dapat memungkiri bahwa segala sesuatu harus berakhir. Agama adalah satu-satunya alat yang digunakan manusia untuk mengatasi persoalan ini. Persoalan ini berada di luar batas-batas ilmu, bagaimanapun berhasilnya ilmu dalam menjelaskan dan mengendalikan dunia empiris, tapi ilmu tidak berkuasa juka diperhadapkan dengan masalah non-empiris. Berdasarkan hal tersebut, maka ada alasan yang baik jika tetap percaya bahwa kepercayaan dan ritual agama yang esensial akan terus berlanjut tak terhingga, meskipun ruang lingkup agama semakin berkurang di masa datang.[12]

III.             Refleksi Teologis
Sekularisasi memberi pelajaran berharga kepada Gereja, yakni agama yang mengusung misinya dengan mengunakan otoritas politik apalagi bersifat monolitik selalu berpeluang menjadi korup dan pada akhirnya mengalami kegagalan. Dalam sebuah dunia modern yang semakin terdiferensiasi, klaim dari otoritas manusiawi sekalipun diinspirasikan oleh ajaran yang amat luhur tampaknya akan selalu berhasil dipatahkan sekurang-kurangnya dikritik oleh otoritas lain. Sebagai contoh, kita dapat melihat gereja kita sendiri yaitu gereja HKBP. Di gereja kita saat ini, banyak pimpinan gereja yang menggunakan otoritasnya untuk mengendalikan semua sistem gereja.  Para pemimpin gereja menggunakan hak yang dia miliki dengan sesuka hatinya, hal itu sangat terlihat jelas di gereja kita saat ini. sebagai seorang pelayan kelak, hendaknyalah kita mampu menjadi seorang pelayan yang tidak otoriter.
Selain dari hal yang telah disebutkan sebelumnya, kita memahami bahwa gereja saat ini telah terpengaruh oleh modernisme dan sekularisasi kebudayaan yang pada akhirnya telah mengubah gereja HKBP. HKBP terkenal dengan gereja yang memelihara adat dan budaya dalam setiap ibadah yang dilakukan. Misalnya saja, dalam hal berpakaian. Di gereja-gereja HKBP yang berada di kota, saat ini telah mengalami kemunduran dalam cara berpakaian. Pada dasarnya hal itu adalah baik, karena zaman telah mempengaruhi bagaimana seseorang berpakaian. Akan tetapi, sangatlah tidak pantas jika seorang wanita menggunakan pakaian yang seenaknya ketika dia akan mengikuti ibadah, khusus dalam konteks gereja HKBP. Jika kita bandingkan, sangatlah berbeda cara berpakaian gereja yang berada di kota dan pedesaan. Bukan soal kualitas pakaian, akan tetapi kewajaran berpakaian. Saya sangat senang jika seorang wanita datang ke gereja layaknya sebagai seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sopan. Bukan berarti kita menolak modernisme yang terjadi, akan tetapi kita harus dapat memilah pakaian mana yang sesuai dengan konteksnya.
Hal lain yang dapat kita refleksikan dalam gereja kita saat ini adalah pengaruh sekularisasi yang harus kita manfaatkan dengan baik. Sekularisasi jangan dianggap akan mematikan agama. sekularisasi pada dasarnya dapat membangun gereja lebih baik lagi, jika kita mampu memilah pengaruh sekularisasi tersebut. Hendaknyalah gereja dapat lebih berkembang dan mengalami pembaharuan. Sehingga gereja ada tidak hanya untuk menjadi berkat bagi anggota jemaat, tapi juga untuk setiap orang yang ada dilingkungan gereja.
Refleksi dalam konteks budaya yang dapat kita lakukan adalah, budaya akan terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Dengan demikian budaya yang kita miliki janganlah bersifat tertutup, tapi juga tidak terlalu terbika. Budaya harus memilki filter, agar perkembangan yang terjadi membawa pembaharuan yang lebih baik lagi.
 Penulis tidak memahami sekular ataupun sekularisasi sebagai hal yang negatif, walaupun memandangnya dari perspektif keagamaan. istilah sekuler dari segi bahasa an sich tidak mengandung keberatan apapun. Jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk dunia (karena hidup dalam dunia), kemudian kata dunia diganti dengan sekular, maka manusia adalah makhluk sekular. Jadi, tidak hanya benar istilahnya saja, melainkan juga pada kenyataannya. Disini penulis tidak menawakan sebuah konsep ketuhanan sekular yang baru. sebuah pemahaman ketuhanan memerlukan refleksi, oleh karena itu hendaknyalah pada masa sekuler ini, kita mampu memahami dengan baik makna sekularisasi yang terjadi dan mampu memilah manakah hasil sekularisasi yang berdampak positif dan negatif.


[1] Dr. Colin Williams, Iman Kristen Dalam Abad Sekuler,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1975), hlm. 6
[2] D. Hendropuspito, Sosiologi Agama,( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 136.
[3] Pardoyo, Sekularisasi Dalam Polemik, ( Yogyakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1993), hlm. 15.
[4] Peter L. Berger, Langit Suci, (Jakarta: LP3ES, 1991), hlm. 128.
[5] Karel Dobbelaere,The Secularization of Society? (New York: Paragon House, 1989), hlm. 27.
[6] Azyumardi Azra, Desekularisasi Dunia,dari www.republika.co.id/kolom_detail.asp. (download pada    tanggal 30 November 2009)

[7] Berger, Op.Cit, hlm. 184
[9] Gustavo Gutièrrez, A Theology of Liberation, (New York: Orbis Books, 1973), hlm. 116.

[10] Peter E. Glasner, Sosiologi Sekularisasi: Suatu Kritik Konsep, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), 23-24.

[12] Stephen K.Sanderson,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar