Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

Teori Sosial Karl Marx

Teori Sosial Karl Marx
          Marx lahir di Trier, Jerman di daerah Rhine pada tahun 1818. ayahnya bernama Heinrich dan ibunya Henrietta berasal dari keluarga rabbi Yahudi yang mencapai kehidupan borjuis yang mewah. Marx mempelajari hukum selama satu tahun di Universitas Bonn, kemudian Marx meneruskan studinya ke Universitas Berlin. Setelah Marx menyelesaikan gelar Doktornya di Universitas Berlin dan bekerja sebagai pimpinan redaksi surat kabar Rheinshe Zeitung dan Marx menikah dengan Jenny von Westphalen, kemudian mereka pindah dan menetap di Paris.
            Teori Sosial Marx merupakan teori yang berhubungan dengan tingkat struktur sosial mengenai kenyataan sosial. Hal yang ditekankan oleh Marx adalah dimana ada suatu keterkaitan yang cukup kuat antara struktur sosial dan kondisi materil, yang menuntut agar masyarakat mampu menyesuaikan dirinya agar mereka bertahan hidup dan mampu memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Manusia harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan materil yang dibatasi oleh struktur ekonomi masyarakat yang berbeda. Bagi Marx ekonomi merupakan dasar utama dari struktur sosial. Bahkan Marx berani mengatakan bahwa kepercayaan agama itu mencerminkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar. Marx menyebutkan bahwa sistem ekonomi terdiri dari kelas-kelas sosial yang muncul dari perbedaan dalam kesempatan seseorang untuk memiliki alat produksi. Hubungan sosial antara kelas-kelas yang bertentangan itu ditandai adanya konflik sosial dan polotik yang mengakibatkan tekanan internal.
            Marx menyatakan bahwa ideologi dan aspek lain dalam kebudayaan akan memperkuat struktur sosial dan struktur ekonomi. Adanya legitimasi pada kelompok-kelompok dominan merupakan salah satu proposisi penting yang ditekankan pada pengetahuan masa kini. Marx juga memiliki pandangan mengenai hubungan antara kegiatan manusia dan produk kegiatan dianggap sebagai elemen penting dalam pendekatan konstruksi sosial masa kini. Hasil kegiatan manusia yang bersifat kreatif ini memiliki sifat kenyataan objektif. Teori alienasi Marx berhubungan dengan sosiologi humanistis atau sosiologi kritis pada saat ini, teori aliensi Marx ini banyak digunakan sebagai usaha seseorang untuk menciptakan suatu perspektif sosiologi yang berpusat di sekitar kebutuhan dan kemampuan manusia, dan dapat juga digunakan untuk mengkritik struktur sosial yang merendahkan martabat manusia atau memperbudak manusia atau mencegah perkembangan mereka yang seutuhnya. Marx menekankan proses konflik pada umumnya dilihat sebagai hal yang bertentangan dengan teori fungsional. Pendekatan fungsional yang dilakukan oleh Marx lebih menekankan konsensus nilai dan keharmonisan di dalam masyarakat daripada konflik yang terjadi. Marx juga menyatakan bahwa ada hubungan saling ketergantungan antara berbagai institusi mengenai hasil dari kegiatan manusia yang dimaksudkan dan kegiatan manusia yang bertentangan dengan maksud dari kegiatan manusia itu sendiri. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa tori yang disampaikan oleh Marx yang paling utama adalah mengenai tingkat struktur sosial dan kondisi materil masyarakat agar dapat bertahan hidup.
Refleksi Teologis
Tuntutan mencari nafkah agar tetap bertahan hidup menjadi salah satu hal yang disoroti oleh Marx. Memang bukan rahasia umum lagi jika seorang memiliki tuntutan hidup yang harus dipenuhinya agar dapat bertahan hidup. Setiap manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan segala kebutuhan yang diperlukan agar tetap dapat bertahan hidup, terlebih lagi di zaman modern ini. Segalanya semakin sulit, seseorang dapat menghalalkan segala cara agar ia mampu memenuhi hasrat kebutuhan dalam hidupnya. Seseorang mau melakukan tindakan kriminal yang bertentangan dengan hukum dunia begitu juga dengan hukum yang ditetapkan Allah agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak orang yang melakukan pencurian atau pembunuhan, demi memenuhi kebutuhan yang ia perlukan. Sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan. Hendaknya kita tidak melakukan hal tersebut. Kita memang harus berusaha memenuhi kebutuhan kita, tetapi tidak dengan cara yang dmikian. Serahkanlah segala hidup kita pada Allah, dan jangan pernah merasa khawatir, karena Allah sang pemelihara kita telah menyediakan apa saja yang kita butuhkan di dunia ini. 

Bagaimana Evolusi Agama terjadi?

Evolusi Agama
R.N.Bellah

          Evolusi Agama yang didefinisikan oleh R.N.Bellah adalah sebagai suatu proses meningkatnya diferensiasi dan kompleksitas organisasi yang memberi organisme, system social atau satuan dengan kemampuan beradaptasi lebih besar terhadap lingkungannya, sehingga system tersebut secara relatif lebih otonom terhadap lingkungannya dibandingkan system yang kurang komplek pada masa yang lampau. Yang berevolusi itu bukanlah kondii-kondisi akhir, bukan Tuhan dan juga bukan manusia dalam pengertian yang luas homo religious. Bukan manusia yang beragama dan bukan juga struktur situasi keberagamaan akhir dari manusia yang berevolusi , melainkan agama sebagai system simbol.
 Skema tahap-tahap evolusi agama didasarkan pada proposisi bahwa setiap tahap kebebasan pribadi dan masyarakat meningkat relatif terhadap kondisi-kondisi lingkungannya. Skema evolusi agama memberi pengaruh terhadap stiap pokok teori umum dalam masyarakat. Evolusi agama dapat menjelaskan fkta-fakta mengenai penerimaan dan penolakan dunia terhadap simbolisasi. Adapaun skema tahap-tahap evolusi agama adalah sebagai berikut :
  • Agama Primitif
Sistem symbol agama sebagai le monde mythique/Dreaming, yang berarti waktu di luar waktu yang dihuni oleh roh-roh nenek moyang, sebagian manusia dan sebagian hewan. Simbol agama primitif adalah mite par excellence, maka tindakan keagamaan adalah ritual par excellence, tidak ada pendeta dan kongregasi, semua terlibat dalam ritual bersatu dengan mite. Tindakan keagamaan tidak ditandai oleh penyembahan dan kurban (sacrifice), elainkan oleh identifikasi, partisipasi dan tindakan secara nyata.
  • Agama Arkaik
Dalam sistem simbol, makhluk-makhluk mitis dilihat sebagai makhluk-makhluk yang memiliki sifat-sifat yang jelas. Tindakan agama berbentuk cult yang membedakan manusia yang subjek dan Tuhan sebagai objek dan jauh lebih jelas dibandingkan dengan agama primitif, persembahan dan kurban sebagai system komunikasi. Individu dan masyarakat terpadu dalam kosmos ketuhanan yang bersifat alamiah.
  • Agama Historis
Agama yang termasuk pada agama historis relatif baru dan agama historis dalam hal-hal tertentu transendental. Sistem simbol historis memiliki unsur-unsur transenden, agama ini bersifat dualistik. Tindakan keagamaan adalah tindakan untuk mencapai keselamatan. Agama sejarah menuntut manusia yang berbuat kesalahan yang mendasar harus lebih serius dalam mencari jalan melepaskan diri secara total.  
  • Agama Pra-Modern
Simbolisasi agama pra modern berpusat pada hubungan langsung antara individu dan kenyataan transsendental. Unsur kosmologis Kristen Kuno merosot menjadi takhayul. Tindakan keagamaan identik dengan keseluruhan kehidupan, praktek keagamaan dan ketaatan mengalami kemorosotan, penekanannya adalah keyakinan bukan tindakan.
  • Agama Modern
Simbol agama sangat sulit diartikan. Agama modern mulai memahami eksistensi self itu sendiri, sehingga mendorong tmbulnya tanggung jawab manusia terhadap nasibnya sendiri. Tindakan keagamaan tidak lagi menyandarkan diri pada gereja untuk mencari makna kehidupannya.
Refleksi
Skema-skema evolusi agama yang telah dipaparkan, memberikan gambaran kepada kita bagaimana perkembangan agama yang terjadi pada masa primitif hingga saat ini. Bila kita perhatikan dalam agama modern, kebanyakan jemaat Kristen tidak lagi menyandarkan dirinya pada gereja. Cenderung mereka bersifat individual dan tidak lagi memperdulikan keberadaan gereja dalam kehidupan mereka. Hendaknyalah kita sebagai umat yang percaya kepada Tuhan, menyandarkan keagamaan yang kita yakini kepada gereja. Evolusi agama hendaknya dapat menjadikan tindakan keagamaan yang kita yakini menjadi lebih baik yang terlepas dari mite dan hanya percaya kepada Tuhan saja.

Sekulerisasi dan Masa Depan Agama menurut Stephen K. Sanderson


SEKULERISASI DAN MASA DEPAN AGAMA
Stephen K.Sanderson

I.                   Kontroversi Mengenai Sekulerisasi
Konsep mengenai Sekulerisasi mengacu kepada suatu proses dimana pengaruh agama yang banyak mempengaruhi bidang kehidupan social secara jelas telah berkurang. Banyak Sosiolog yang menyetujui pandangan bahwa sekulerisasi ,merupakan kecenderungan pokok dalam masyarakat Barat beberapa abad lalu/ setelah munculnya industrialisasi. Mereka banyak yang setuju, bahwa industrialisasi yang telah terjadi pada masa modern ini telah menyebabkan agama semakin surut dai arena kehidupan sosial yang dikuasai secara tradisional. Proses sekulerisasi adalah suatu kekuatan yang tidak dapat dicegah dan akan memuncak pada saat surutnya agama yang terorganisasi.
Pada tahun 1987, Jeffrey Hadden menegaskan bahwa tesis dari sekulerisasi semakin luas dirangkul oleh para sosiolog, sehingga telah menjadi suatu kebenaran yang tidak terhalangi dan diterima begitu saja. Akan tetapi, dalam tahun-tahun terakhir ini berbagai tantangan terhadap tesis sekulerisasi telah muncul. Hadden menegaskan bahwa tesis ini secara empiris adalah palsu, tesis ini lebih ditopang oleh antagonisme para sosiolog terhadap agama yang terorganisasi. Adapun bukti dari hal tersebut adalah: (1) Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua terjadi kebangkitan agama kembali. (2) Adanya pertumbuhan pesat dalam tradisi-tradisi keagamaan yang lebih konservatif, yaitu evanggelis dan fundamentalis. (3) Mayoritas manusia menyatakan kepercayaan kepada Tuhan. (4) Kebaktian keagamaan masih sangat stabil.
Pada tahun 1988, Timothy Crippen juga menyerang tesis sekulerisasi. Crippen melanjutkan suatu garis berpikir yang telah menjadi umum dikalangan penentang tesis ini, yang menandaskan bahwa agama dalam masyarakat modern sedang mengalami transformasi. Timothy mengatakan agama tradisional mungkin sedang menyusut, tetapi kesadaran keagamaan tetap kuat dan memanifestasikan diri dalam kepercayaan dan ritual-ritual baru yang sesuai dengan bentuk-bentuk organisasi modern yang unggul dan tukar-menukar. Crippen percaya bahwa “tuhan-tuhan yang lama”, dan tuhan-tuhan yang baru itu banyak bersangkutan dengan kepercayaan dan ritual baru yang disucikan yang melambangkan kedaulatan negara-negara dan integritas moral individu. Jenis “agama” yang baru yang dikatakan Crippen ialah apa yang pernah disebut oleh Robert Bellah. Posisi Bellah tidak dapat dipertahankan karena posisi seluruhnya bersandar pada suatu defenisi agama secara klasik adalah inklusivis. Hadden membahas hanya satu masyarakat, yakni Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat paling religius bila dibandingkan dengan semua masyarakat industri Barat.
Bryan Wilson 1982, merupakan sosiolog agama Inggris yang mengemukakan bahwa tesis sekulerisasi itu tergantung pada pengertian bahwa bentuk-bentuk masyarakat manusia masa lalu pada umumnya memberi arti sosial yang mencolok kepada agama. Wilson mengatakan bahwa masyarakat-masyarakat telah mengalami penyitaan oleh kekuasaan politik daripada harta benda dan fasilitas-fasilitas lembaga keagamaan, seperti:
☻Bergesernya kontrol agama ke kontrol sekuler berbagai kegiatan dan fungsi agama.
☻Menurunnya proporsi waktu, energi, dan sumber daya mereka yang diabdikan manusia        kepada perhatian yang super empiris.
☻Merosotnya lembaga-lembaga religius.
☻Dalam masalah perilaku, tergantikannya secara perlahan-lahan suatu kesadaran religius secara spesifik (mungkin saja mulai dari ketergantungan pada jimat-jimat, upacara-upacara, jampi-jampi, atau doa-doa, sampai kepada suatu masalah etik yang secara luas diilhami secara spiritual).

II.                Masa Depan Agama
Banyak ilmuwan sosial yang yakin bahwa ilmu dan teknologi akan menghancurkan agama sebagai suatu lembaga sosial. Diantaranya adalah Anthony Wallace yang menegaskan bahwa masa depan agama yang evolusioner adalah suatu hal yang telah hilang. Percaya kepada makhluk-makhluk supernatural dan kekuatan supernatural yang mempengaruhi alam tanpa mematuhi alam akan mulai luntur. Sebagai suatu unsur kebudayaan, percaya kepada kekuasaan supernatural ditakdirkan untuk lenyap dan hilang dari dunia, sebagai akibat dari meningkatnya adekuasi dan difusi pengetahuan ilmiah dan realisasi oleh keyakinan sekuler bahwa kepercayaan supernatural tidak diperlukan untuk penggunaan ritual yang efektif.
Namun, ada pandangan yang bertentangan dengan hal yang telah dinyatakan oleh Anthony. J.Milton Yinger memandang agama sebagai suatu lembaga residual, yaitu suatu lembaga  yang akan selalu ada. Agama adalah suatu alat untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan akhir, dan agama ada untuk mengurangi ketidakpastian. Yinger. Manusia menaklukan kemiskinan hanya untuk menyadari bahwa pengetahuan dibalik pencapaian itu adalah bagian dari suatu pengetahuan yang lebih besar dari apapun. Kepercayaan manusai dapat merancang proses-proses sekuler untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dilakukan oleh agama itu sendiri adalah benteng harapan bukan suatu proposisi yang divaliditaskan secara empiris.
Wallace banyak memberi rekomendasi ilmu dan melunturkan kepercayaan agama. Menurut Glock dan Stark pada tahun 1965 menegaskan bahwa kita mengetahui jika seseorang memperoleh pandangan intelektual yang sangat berkembang, maka kepercayaan agama mereka cenderung akan menurun. Karena itu, jika manusia mulai dimasuki pengaruh bentuk pengajaran yang maju, maka agama dapat runtuh atau bahkan sanagt berkurang artinya. Semua kebudayaan manusia memperlihatkan keterbatasan dan telah menciptakan konsepsi-konsepsi tentang suatu kehidupan akhirat agar dapat memungkiri bahwa segala sesuatu harus berakhir. Agama adalah satu-satunya alat yang digunakan manusia untuk mengatasi persoalan ini. Persoalan ini berada di luar batas-batas ilmu, bagaimanapun berhasilnya ilmu dalam menjelaskan dan mengendalikan dunia empiris, tapi ilmu tidak berkuasa juka diperhadapkan dengan masalah non-empiris. Berdasarkan hal tersebut, maka ada alasan yang baik jika tetap percaya bahwa kepercayaan dan ritual agama yang esensial akan terus berlanjut tak terhingga, meskipun ruang lingkup agama semakin berkurang di masa datang.

Agama sebagai sebuah Sistem Kebudayaan

AGAMA SEBAGAI SEBUAH SISTEM KEBUDAYAAN
(Clifford Geertz)
 I.            Pendahuluan
      Agama merupakan bagian dari kebudayaan di mana di dalam keagamaan terdapat unsur-unsur kebudayaan. Kebudayaan itu selalu mempengaruhi agama. Kebudayaan yang terdapat dalam agama dilambangkan dengan simbol. Untuk mengetahui lebih jelasnya lagi hubungan antar kebudayaan dan agama maka kami kelompok akan menjelaskannya dalam agama sebagai sebuah sistem kebudayaan.

    II.      Isi
2.1. Hubungan Agama Dengan Kebudayaan
Studi antropologis tentang agama terlihat dalam sebuah kasus ibadat kepada bapa leluhur sehingga mendukung otoritas hukum generasi yang lebih tua. Cara untuk melakukan hal ini bukanlah meninggalkan tradisi-tradisi yang ada, melainkan memperluasnya. Bagaimanapun juga konsep kebudayaan tidak terlepas dari hal ini. Konsep kebudayaan itu berarti suatu pola makna-makna yang diteruskan secara historis yang terwujud dalam simbol-simbol yang dengannya manusia dapat berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap-sikap terhadap kehidupan.
Simbol-simbol religius merumuskan sebuah kesesuaian dasariah antara sebuah gaya kehidupan tertentu. Simbol itu menunjukkan keyakinan terhadap sesuatu yang dipercayai. Misalnya, pemakaian salib yang dipergunakan di leher dengan penuh kasih. Sitem-sistem simbol merupakan sumber informasi untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang simbol.
Soal ini kadang-kadang diungkapkan dalam bentuk sebuah argumen bahwa pola-pola kultural merupakan model. Istilah model di sini memiliki dua arti, yakni: pertama model “dari”, yang ditekankan adalah manipulasi struktur-struktur simbol sehingga membawa struktur-struktur itu ke dalam kesejajaran dengan sistem non-simbolis yang ditetapkan sebelumnya (model dari kenyataan). Yang kedua, model “untuk”, yang ditekankan adalah manipulasi sistem-sistem non-simbolis menurut hubungan-hubungan yang terungkap dalam sistem-sistem simbolis (model untuk kenyataan). Model untuk ditemukan melalui keseluruhan susunan alam. Model dari mempersentasikan yang terdapat dalam model untuk. Dapat dipertukarkannya kedua model ini jelas pada simbol-simbol religius dan sistem-sistem simbol.
Ada dua buah deposisi yang berbeda muncul kemudian setelah kegiatan-kegiatan religius di atas, yakni: yang pertama, motivasi. Motivasi adalah suatu kecenderungan yang tahan lama, suatu kecondongan yang terus menerus muncul untuk menampilkan jenis-jenis tindakan-tindakan tertentu dan mengalami jenis-jenis perasaan tertentu dalam jenis-jenis situasi tertentu. Yang kedua suasana hati, suasana hati banyak dipengaruhi oleh simbol-simbol keramat, pada saat-saat dan tempat-tempat yang berbeda-beda, berturut-turut dari kegembiraan yang meluap-luap sampai kepada kesedihan yang mendalam. Perbedaan besar antara suasana-suasana hati dan motivasi adalah terletak pada kualitasnya, yaitu pada tujuannya.
Deposisi-deposisi yang ditetapkan sebagi sesuatu yang religius harus dapat merumuskan gagasan-gagasan tentang pembedaan empiris kegiatan religius sehingga walaupun pencarian kejelasan dan kecemasan metafisis ini merepotkan namun ada pemahaman yang lebih mudah untuk dimengerti. Misalnya dengan munculnya pendapat dari Malinowskt yang menawarkan jalan keluar yang bersifat empiris yaitu hanya dengan ritus dan kepercayaan ke dalam wilayah supranatural.
2.2. Masalah Religius Agama
Sebagai suatu masalah religius adalah agama di satu sisi menanamkan kekuatan sumber-sumber simbolis untuk merumuskan gagasan-gagasan analitis dalam sebuah konsep otoritatif tentang bentuk menyeluruh dari kenyataan, demikian juga dilain sisi agama menanamkan kekuatan-kekuatan sumber simbolis untuk mengungkapkan emosi-emosi. Oleh karena itu agama seharusnya menekankan maknanya sehingga simbolisme itu dipahami sebagai penderitaan umat manusia. Dengan demikian maka manusia dapat memahami pendeitaan dan menjadikannya kesakitan jasmaniah. Maka ritus-ritus penyembuhan pun akan dikumandangkan lewat nyanyian bersama yang berisikan penderitaan.
Masalah penderitaan dengan mudah beralih ke masalah kejahatan, ini dikarenakan penderitaan yang cukup hebat terjadi/dialami oleh manusia. Masalah kejahatan pada hakekatnya merupakan jenis masalah tentang kebingungan atau tentang penderitaan. Kesulitan dalam memahami suatu peristiwa empiris tertentu seperti halnya masalah kejahatan menimbulkan anggapan bahwa kehidupan manusia di dunia ini sama sekali tidak punya aturan yang sejati dan tidak memiliki aturan empiris. Prinsip-prinsip dalam menetapkan tatanan moral memang sulit dipahami oleh manusia, namun bagi seorang manusia religius yng penting adalah penjelasan atau bentuk dari fakta suatu peristiwa yang terjadi. Masalah makna adalah soal meneguhkan, dalam pengertian simbolis religius sebuah simbolisme yang menghubungkan lingkup eksistensi manusia ke sebuah skop yang lebih luas yang mencakup simbolisme, baik peneguhan maupun pengingkaran itu dilakukan.
Kepercayaan religius merupakan sebuah penerimaan otoritas sebelumnya yang dapat mengubah pengalaman yang dialaminya. Adanya kebingungan, penyakit dan masalah makna merupakan salah satu hal yang mendorong manusia ke arah kepercayaan akan ilah-ilah, setan-setan dan roh-roh. Masalah makna bukan basis tempat bersandarnya kepercayaan-kepercayaan itu, melainkan bidang penerapan yang paling penting dari kepercayaan itu. Dalam agama-agama suku primitif, otoritas terdapat dalam kekuatan persuasif dari cerita-cerita tradisional. Dalam agama-agama mistis terdapat perintah apodiktis tentang pengalaman adi-indrawi. Dalam agama-agama kharismatis, terdapat dalam daya tarik hipnotis dari seorang pribadi yang luar biasa. Aksioma dasariah yang mendasari perspektif agama pada dasarnya adalah sama, di mana jika seseorang ingin mengetahui harus lebih dulu percaya.
Perspektif adalah satu cara khusus untuk memandang kehidupan, menafsirkan dunia, seperti halnya perspektif sejarah, perspektif ilmiah, perspektif estetis dan perspektif akal sehat. Perspektif religius bergerk melampaui kenyataan-kenyataan kehidupan sehari-hari kepada kenyataan yang yang lebih luas yang mengoreksi dan melengkapi kenyataan-kenyataan sehari-hari itu. Perspektif religius berbeda dengan perspektif ilmiah dalam kenyataan bahwa perspektif religius mempersoalkan kenyataan-kenyataan kehidupan sehari-hari tidak keluar dari suatu skeptisisme yang terlembaga. Perspektif religius berbeda dari seni dalam kenyataan membuat bayang-bayang dan ilusi.
Pengertian perspektif religius bersandar kegiatan-kegiatan simbolis dari agama sebagai sebuah sistem kultural dibaktikan untuk menimbulkan perspektif religius dengan pewahyuan-pewahyuan yang bertentangan dari pengalaman sekuler. Motivasi-motivasi hati seseorang dalam kepercayaan iman seseorang ditimbulkan oleh simbol-simbol sakral dalam diri manusia dan eksistensi yang dirumuskan dalam simbol-simbol yang bertujuan untuk memperkuat satu sama lain. Kepercayaan religius muncul pada tataran manusiawi. Ritus religius mencakup perpaduan simbolis dari etos dan pandangan dunia, ritus ini merupakan ritus-ritus tertentu yang biasanya lebih bersifat publik. Pertunjukan-pertunjukan kultural menjelaskan bahwa upacara-upacara keagamaan tidak hanya menyajikan titik perpaduan segi-segi disposisional dan konseptual dari kehidupan religius untuk orang yang percaya, melainkan juga menyajikan sesuatu yang di dalamnya terdapat interaksi.
2.3  Keadaan Religius Keagamaan
 Semua pertunjukan kultural bukanlah pertunjukan-pertunjukan religius yang bersifat aristis atau politis. Contohnya agama Indian yang memikirkan agama mereka sebagai sesuatu yang dikemas dalam pertunjukan-pertunjukan khas yang mereka pamerkan kepada para tamu dan diri mereka sendiri. Bagi mereka agama adalah suatu bentuk kesenian manusia. Realisasi dari prspektif religius tidak hanya merupakan model-model dari apa yang mereka percayai, melainkan juga model-model untuk mempercayainya. Salah satu pertunjukkan dramatis lainnya adalah pertunjukan keagamaan di Bali. Dalam perunjukkan itu makna yang dapat diambil adalah perpaduan antara kedengkian yang keji dan lawakan ringan yang tentunya membawa suatu hikmah bagi penontonnya.
Drama merupakan sebuah pertunjukan yang tidak semata-mata merupakan sebuah barang tontonan untuk ditonton melainkan sebuah ritus yang dipentaskan bagi orang Bali. Hubungan anatara yang jahat dan yang jenaka, yang dilukiskan dalam drama itu adalah pertarungan antara Rangda-Barong, menjiwai tingkah laku orang Bali sehari-hari dalam lingkup yang sangat luas; kebanyakan darinya, seperti ritus-ritus itu sendiri, memiliki suasana ketakutan yang bercampur senda gurau.
Sebagian, jalan masuk ke dalam susunan ritus itu berlangsung melalui pengantaran berbagai peran pendukung yang terdapat di dalamnya, anatara lain: tukang-tukang sihir kecil, setan-setan, berbagai macam tokoh legendaris dan mitis, di mana seluruhnya ini dimainkan oleh orang-orang desa yang terpilih. Akan tetapi sebagian besar jalan masuk ke dalam susunan ritus itu berlangsung lewat pengantaran sebuah kemampuan yang luar biasa hebatnya untuk memisahkan diri secara psikologis terhadap sebagain besar dari penduduk.
Menjadi trans bagi orang Bali, menyeberangi sebuah ambang pintu ke dalam tatanan kenyataan yang lain. Kata untuk trans adalah nadi, dari kata dadi, sering diterjemahkan menjadi tetapi secara lebih sederhana dinyatakan sebagai berada. Dan bila orang-orang desa itu mulai trans, mereka menjadikan nadi diri mereka sendiri bagian dari dunia tempat kehadiran-kehadiran itu ada. Saat trans itu terjadi maka mereka berkelahi satu sama lain, berkubang kejang-kejang di dalam lumpur dan yang menyelamatkan mereka ialah orang-orang yang tidak mengalami trans tersebut yang berada di lingkungan sekitar mereka.
Bagi seorang antropolog pentingnya agama itu teletak pada kemampuannya untuk berlaku; bagi seorang individu atau sebuah kelompok sebagai sumber konsep umum namun jelas, tentang dunia, diri, dan hubungan di antara keduanya. Studi antropologis mengenai agama merupakan suatu operasi yang memiliki dua tahap: yang pertama, suatu analisis atas sistem sebuah makna yang terkandung di dalam simbol-simbol yang meliputi agama tertentu. Kedua, menghubungkan sistem-sistem tersebut pada struktur sosial dan proses psikologis.
Taraf perkembangan sistem-sistem religius itu sendiri amat bervariasi, dan tidak semata-mata berdasarkan pada suatu basis evolusioner sederhana. Hanya bila kita memiliki sebuah anlisa teoritis atas tindakan simbolis yang dapat dibandingkan dengan sotisfikasi pada apa yang sekarang kita miliki untuk tindakan sosial dan psikologis, kita akan dapat secara efektif menguasai segi-segi kehidupan sosial dan psikologis itu yang di dalamnya agama (skesenian, ilmu pengetahuan, dan ideologi) memainkan sebuah peranan yang menentukan.

 III.      Refleksi
Kehidupan kita umat manusia yang beragama tidak dapat terlepas dari pengaruh kebudayaan Dalam kehidupan kita sekarang juga kebudayaan itu masih terlihat mempengaruhi agama, misalnya sebagi salah satu contohnya adalah pakaian adat yang dipakai untuk ke gereja. Kemudian dalam kehidupan sehari-hari juga kita tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan religius misalnya melaksanakan acara adat, baik dalam pernikahan dan upacara penguburan. Kebudayaan yang mempengaruhi agama yang dilambangkan dengan simbol-simbol masih ada juga sampai sekarang misalnya bangunan gereja yang diberi motif kebudayaan.




 IV.      Kesimpulan
         Studi antropologis tentang agama terlihat dalam sebuah kasus ibadat kepada bapa leluhur sehingga mendukung otoritas hukum generasi yang lebih tua. Dalam melakukan ibadat ini tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan. Kebudyaan itu dilambangkan dengan   simbol-simbol. Sutau masalah bagi agama adalah karena agama menanamkan kekuatan sumber-sumber simbolis untuk merumuskan gagasan-gagasan analitis dalam sebuah konsep otoritatif tentang bentuk menyeluruh dari kenyataan, demikian juga dilain sisi agama menanamkan kekuatan-kekuatan sumber simbolis untuk mengungkapkan emosi-emosi. Agama itu seharusnya menekankan simbolisme sehingga manusia dapat memahami penderitaan. Penderitaan yang terlalu berat dapat menimbulkan kejahatan.
Semua pertunjukan kultural bukanlah pertunjukan-pertunjukan religius yang bersifat aristis atau politis. Misalnya, melakukan pementasan drama bagi orang Bali, di mana mereka menganggap hal itu bukan sebagai sebuah tontonan belaka saja melainkan sebuah ritus. Taraf perkembangan sistem-sistem religius itu sendiri amat bervariasi, dan tidak semata-mata berdasarkan pada suatu basis evolusioner sederhana. Hanya bila kita memiliki sebuah anlisa teoritis atas tindakan simbolis yang dapat dibandingkan dengan sotisfikasi pada apa yang sekarang kita miliki untuk tindakan sosial dan psikologis, kita akan dapat secara efektif menguasai segi-segi kehidupan sosial dan psikologis itu yang di sdalamnya agama (skesenian, ilmu pengetahuan, dan ideologi) memainkan sebuah peranan yang menentukan.